Showing posts with label Profile. Show all posts
Showing posts with label Profile. Show all posts

Padi

PADI, sebelumnya hanyalah salah satu band kampus yang ada Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Beranggotakan Andi Fadly Arifuddin (Fadly, Vokalis), Satriyo Yudhi Wahono (Piyu, Gitar), Ari Tri Sosianto (Ari, Gitar), Rindra Risyanto Noor (Rindra, Bass), dan Surendro Prasetyo (Yoyok, Drum).

Padi Sebelum bernama PADI, band ini dulu bernama SODA. Mereka tampil pertama kali di sebuah acara kampus di Fakultas Hukum Unair Oktober 1996. Barulah pada tanggal 8 April 1997 mereka mengganti nama band-nya dengan nama PADI. Nama ini dilontarkan pertama kali oleh Yoyok, sang drummer. Selain karena filosofinya semakin berisi semakin merunduk, ibarat makanan pokok mereka menginginkan band ini bisa dinikmati oleh semua orang. Mulai dari tukang becak, anak kecil, hingga para eskesuktif berdasi. Meski nama PADI sering dianggap "kampungan", karena dianggap makanan orang susah. Tapi PADI punya makna sangat membumi, di mata mereka PADI juga merupakan lambang kesejahteraan.

Latar belakang personil sangat beragam, mereka tidak begitu saja bertemu dan langsung membentuk sebuah band. Pertama kali Piyu dan Ari yang sepakat untuk membikin sebuah band. Untuk bassis, Ari mengajak temannya Rindra karena dulu pernah tergabung dalam satu band yang bernama WARNA. Baru setelah itu ditemukan sang vokalis-Fadly dan drummer-Yoyok. Fadly, yang pertama kagum akan permainan gitar Ari ketika manggung dalam salah satu pementasan di kampusnya, pada awalnya menawarkan Fadly diri kepada Ari untuk bergabung di band-nya jika memerlukan seorang bassis (sejak SMA, Fadly adalah seorang bassis).

Padi Untuk skill personil, sudah jangan diragukan lagi. Piyu, yang sebelumnya bermain di band yang memainkan lagu-lagu beraliran keras bersama Crystal Band, dulu pernah menjadi teknisi gitar di sebuah band ternama di Indonesia. Rajin ngulik gitar dari SMA, dan kepiawaiannya dalam menciptakan lirik tidak banyak diragukan lagi. Banyak lagu-lagu hits-nya PADI di kemudian hari yang terlahir. Begitupun dengan Rindra, pernah dalam satu tahun menyabet gelar bassis terbaik di tahun 1992. Lain lagi dengan Yoyok, siapa sih yang tidak kenal jebolan Andromeda band yang pernah meraih gelar drummer terbaik se- Indonesia pada tahun 1998.

Sebelum terbentuk menjadi band solid seperti sekarang ini, mereka adalah band yang merangkak dari bawah, jatuh bangun dan pernah merasakan beberapa kali ditolak oleh perusahaan-perusahaan rekaman besar. Penolakan itu tidak membuat mereka putus asa, malah memicu untuk sering membuat demo dan mengantarkannya sendiri dari Jakarta ke Surabaya. Pernah merasakan tidur di sambungan kereta api karena kehabisan tiket, dan juga pernah merasakan makan nasi basi karena sewaktu beli nasi bungkus di kereta ternyata dapatnya yang sudah basi, tapi karena sudah kelaparan akhirnya di makan bagian nasi yang belum basi.

Pernah dalam suatu kesempatan Piyu berkomentar "pemain band itu harus hidup penuh penderitaan dulu sebelum terkenal. Hidup menderita itu bisa melatih kita untuk punya jiwa survive dan akhirnya bisa eksis di dunia kita sendiri."

Padi Dewi fortuna mulai berpihak kepada mereka, ketika pada suatu kesempatan manggung di sebuah pub di Surabaya yaitu Colors, dengan disaksikan perwakilan dari label rekaman Sony Music Indonesia. Keesokan harinya, mereka ditawarkan untuk rekaman album kompilasi Indie Ten, ajang kemampuan untuk para band baru. Sebelumnya, Padi telah memasukan demo album terlebih dahulu. Dan kebetulan pihak Sony sedang ke Surabaya untuk urusan promo sebuah album, Padi sekalian di audisi.

Mereka bermain band dari kampus ke kampus. Meskipun grup baru, mereka tergolong matang dan selalu tegas dalam setiap konsep yang mereka buat. Sejak awal mereka memantapkan diri di jalur pop rock. Mungkin karena itu pula Sony Music tertarik untuk mengelola Padi. Padahal, sebelumnya Aquarius dan RIS Music menolak mereka.

Namun mereka sempat menolak Sobat untuk jadi lagu andalan di album pertama mereka. Soalnya, mereka telah menyiapkan Demi Cinta sebagai lagu jagoan. Karena itulah lagu Sobat, yang menurut Sony menarik, dimasukkan di album Indie Ten. ''Mungkin itu sudah jalan kita, harus ikut album kompilasi dulu,'' ujar Yoyo. Tidak menyia-nyiakan peluang yang ada di depan mata, mereka ambil kesempatan itu dengan lagu "Sobat" nya.

Setelah itu, jalan menuju sukses mulai terbuka lebar. Untuk langkah awal mereka di kontrak Sony untuk 4 album. Album pertama, LAIN DUNIA, rilis setahun kemudian yaitu tepatnya pada tanggal 6 Agustus 1999. Penjualan album ini, meski perlahan tapi pasti. Banyak orang mengenal PADI setelah lagu-lagunya menjadi hits seperti Begitu Indah, Demi Cinta, Seperti Kekasihku, dan Mahadewi. Mahadewi menjadi booming ketika lagu ini dibuat vidklip-nya, hingga merajai chart-chart musik di televisi maupun radio-radio di tanah air.

Album kedua, Sesuatu Yang Tertunda, rilis pada tanggal 2 Juli 2001. Saat awal peluncuran, sudah terjual 450.000 copy. Yang pasti diingat dari album ini sudah tentu adalah hits yang menjadi legenda sepanjang masa "Kasih Tak Sampai". Banyak orang bilang ini akan menjadi everlasting song-nya PADI, yang akan tetap dikenang sampai kapanpun.

Album ketiga Save My Soul, rilis pada tanggal 18 juni 2004 namun baru di launching pada tanggal 24 Juni 2004. Launching-nya pun sempat dibikin heboh, PADI main di atas atap restoran cepat saji di salah satu kawasan di Sarinah-Thamrin, disiarkan langsung oleh salah satu televisi swasta di Indonesia. Album yang penuh kejutan, karena banyak orang bilang lagu-lagu di album ini rumit dan tidak berselera pasaran. Namun ini justru menandakan kejujuran PADI dalam bermusik. Di album ini, PADI mewujudkan impiannya untuk berkolaborasi dengan musisi idola mereka yaitu Iwan Fals, dalam lagu yang berjudul "Sesuatu Yang Tertunda". Dalam seminggu, album ini terjual sekitar 500.000 copy.

Album ke empat, self titled-PADI, rilis 9 Mei 2005. Album ini disebut-sebut sebagai album kelahiran PADI kembali. Semangatnya, kerjasamanya, konon dibuat seperti ketika PADI bikin album pertama kali. Di album ini, PADI banyak berkolaborasi dengan musisi senior seperti Bubby Chen (Pianis Jazz), Abadi Soesman (Pemain Keyborad), dan Idris Sardi (Pemain Biola). Ada sebuah lagu yang dijadikan Original Soundtrack sebuah film Indonesia-Ungu Violet, yaitu lagu berjudul "Menanti Sebuah Jawaban".

Selain keempat album regular diatas, PADI juga pernah bikin album-album kompilasi seperti Official Songs World Cup (lagu Work of Heaven, 2002), Album rohani Family Songs Hadad Alwi (Doaku, 2003), Tribute to Ian Antono (Saksi Gitar Tua, 2004), dan album sosial untuk korban Tsunami di Aceh "Kita Untuk Mereka" (lagu 26 Desember, 2005).

Sumber: http://www.sobatpadi.net

Gigi

  • gigi anyar

  • D
    engan modal keinginan yang sama khususnya di bidang musik Aria Baron, Thomas Ramdhan, Ronald Fristianto, Dewa Budjana dan Armand Maulana pada tanggal 22 Maret 1994 mendirikan kelompok musik yang diberi nama cukup unik : G I G I .

    Kehadiran mereka di blantika musik Indonesia awalnya tidak langsung bersinar begitu saja, padahal kalau dilihat dari penampilan , kemampuan dan pengalaman-nya, mereka dapat dikategorikan sarat sebuah group musik yang harus diperhitungkan kehadirannya.

    Album perdana “ ANGAN “ terjual 100.000 copy, sebuah angka penjualan yang sebenarnya cukup lumayan untuk sebuah group baru pada masa itu, apalagi kalau didengar dengan teliti bahwa pada album tersebut warna musik GIGI belum terlihat jelas, mereka masih dalam proses pencarian, mereka masih memainkan musiknya menurut kata hatinya sendiri-sendiri, kebutuhan group pada saat itu dipikirkan dan hasilnya belum seperti yang diharapkan.

    Ada angin, publik mulai memperhatikan musik GIGI, menyadari hal tersebut merupakan peluang yang baik, mereka mulai membenahi segala bidang yang dianggap penting dalam berolah musik. Dalam mempersiapkan album kedua konsep musik benar-benar dimatangkan dan disempurnakan dengan mempertimbangkan analisa dan masukan-masukan yang diperoleh pada album pertama. Selain itu untuk lebih memaksimalkan konsentrasi personel GIGI dalam berolah musik, tanpa terganggu hal-hal lain di luar musik, dibentuklah GIGI MANAGEMENT.

    Kerja keras dan kesabaran membuahkan hasil yang baik, album kedua “ DUNIA “ yang dirilis tahun 1995 adalah sebuah pembuktian bahwa perjuangan mereka selama setahun tidaklah percuma. Album dengan lagu hit “ Janji “ laku terjual 400.000 copy. Tidak itu saja prestasi yang diperoleh , selain album ini ikut menaikan kembali permintaan akan album pertama, pada acara Indonesia Musik Emas yang diikuti oleh group-group papan atas di Indonesia, GIGI dinobatkan sebagai kelompok musik terbaik. Kondisi ini pula yang memudahkan GIGI MANAGEMENT untuk menggapai target tahunannya.

    September 1995 adalah tahun cobaan, pada saat dimana GIGI sedang tegar berkibar di atas, Aria Baron meninggalkan GIGI, pasalnya ingin melanjutkan sekolahnya di Amerika. Akhirnya dilepaslah Baron dan GIGI tetap berjalan dengan komitmen tidak juga menambah personil pengganti ( walau banyak guitarist yang mau audisi). kondisi seperti ini ternyata tidak membuat masalah berarti. Terbukti pada April 1996 saat GIGI me-rilis album ketiganya yang berjudul “ 3/4 “ masih banyak yang menyukainya. Album dengan lagu hit “ O O Oo Oo O “ ini laku terjual sama dengan album kedua kurang lebih hampir 400.000 copy. Sedangkan prestasi tahun 1996 yang diperoleh GIGI adalah sebagai kelompok musik paling bersinar 1996, Group Band terlaris 1996, dari Data management 48 kali show yang ditargetkan dapat tercapai 59 show, satu di antaranya di Amerika.

    mark1
    GIGI 1994 - 1996

    Lagi-lagi cobaan, semua masalah yang ada di tahun 1995 dapat terselesaikan datang lagi ditahun 1996, Thomas Ramdhan pada Mei 1996 mengundurkan diri disusul Ronald Fristianto pada November 1996. Bukan saja management yang menyesalkan permasalahan ini terjadi tapi masyarakat musik pun demikian adanya. Akhirnya apa boleh dikata demi memberikan pertanggunganjawaban atas kewajibannya, GIGI (yang personelnya tinggal Dewa Budjana dan Armand Maulana saja) didukung sepenuhnya oleh Management memutuskan untuk tetap berjalan dan mencari pemain pengganti. Pilihannya adalah Opet Alatas ( Bass ) dan Budhy Haryono ( drum ).

    96-97
    GIGI 1996 - 1997

    Tahun 1997 adalah tahun serba baru bagi GIGI. Selain dua pemain baru dan konsep musik baru, perusahaan rekamannya pun baru. Sebenarnya kondisi lain yang diharapkan harusnya baru juga, ternyata tidak begitu, Album yang diberi nama “ 2 X 2 “ yang dapat dikatakan album tereksklusif GIGI tersebut yang proses pengambilan suaranya di lakukan di Indonesia dan Amerika, proses penyempurnaan keseluruhan ( Mixing dan Mastering ) di lakukan sepenuhnya di Amerika kurang dipromosikan secara maksimal, akibatnya album yang bekerjasama dengan Musisi Dunia seperti Billy Sheehan ( Bassist Mr. BIG ), Harry Kim dan Arturo Velasco ( Phil Collins Brass Sections ), Eric Marienthal ( Saxophone Solo ) hasil yang diharapkan tidak seperti yang ditargetkan. Untung ada Program tour 100 Kota dari Management GIGI yang paling tidak membantu meningkatkan penjualan kaset.

    Tahun 1998, adalah tahun pembuktian bagi GIGI. Konsep musik yang sempat sedikit berubah akibat penyesuaian dengan personel yang baru, sekarang kembali seperti cirinya sediakala. Pindah perusahaan rekaman ke Sony Music Indonesia adalah pilihan yang tepat. 19 Juni 1998, sepulangnya GIGI show di Malaysia , album “ KILAS BALIK “ di lempar kepasar. Tidak diduga hasilnya, dengan kerjasama yang baik antara Management GIGI dan Sony Music Indonesia mengemas promosi album, tingkat penjualan kasetnya terhitung laku keras. Tidak saja di Jakarta atau di Pulau Jawa, dipulau lainnya pun penjualan kaset GIGI menjadi best seller untuk beberapa periode mingguan. Sedangkan hits lagu “ Terbang “ duduk ditangga lagu terbaik radio di Indonesia tidak kurang dari 9 minggu, belum lagi lagu lainnya seperti “ Dimanakah kau berada “ dan “ Rindukan Damai “. Penjualan kaset dan CDnya mencapai angka 300.000. Prestasi lain yang diperoleh ditahun 1998 pun sangat menggembirakan seperti di Anugerah Musik Indonesia, GIGI menggondol beberapa katagori seperti Group Terbaik, Penyanyi Terbaik, Lagu Terbaik dan Nominasi Cover Kaset Terbaik. Sedangkan dari media cetak GIGI dinobatkan sebagai group pop rock terbaik 1998 dan group paling bersinar 1998. Yang paling menggembirakan bagi GIGI di kondisi ekonomi Indonesia yang sedang parah begini target management untuk mencapai 48 kegiatan/show dalam satu tahun ( terhitung Juni 1998 ) sudah terlampaui di akhir tahun 1998 dengan 68 kegiatan/show.

    GIGI tetap gigih dalam ber- Cita, menyelesaikan Cipta untuk mendapatkan Citra. Karena hal itu GIGI yang terdiri dari Armand Maulana ( Vocal ), Budhy Haryono ( Drum ), Dewa Budjana ( Guitar ) dan Opet Alatas ( Bass ) akan selalu berusaha melakukan terobosan baru dalam bermusik.

    Tahun 1999, adalah tahun yang cukup suram bagi dunia musik Indonesia. Dalam kondisi perekonomian yang dilanda krisis berkepanjangan sangat mempengaruhi aktivitas dan kehidupan bermusik. Bursa kaset, aktivitas show, aktivitas rekaman terasa ikut lesu darah. Ditambah dengan suhu politik yang kian meninggi menjelang pemilu tahun ini, menimbulkan bermacam prediksi dan ketidakpastian tentang kondisi pasca pemilu. Demikian pula yang terjadi pada dunia musik. Banyak proyek-proyek rekaman tertunda menunggu perkembangan politik dan ekonomi Indonesia.

    Di tengah ketidakpastian dan kesemrawutan itulah GIGI tetap bertahan dan tetap terus berkarya. Bahkan suasana muthakhir negeri tercinta ini terekspresikan dalam salah satu karya GIGI terbaru yang berjudul “1999,,,,Menangis”.

    97-99
    GIGI 1997 - 1999

    Bersamaan dengan HUTnya yang ke 5 bulan April 1999 yang ditandai dengan konser tunggal GIGI di Gedung Kesenian Jakarta yang bertajuk “Konser Balas Budi”, diluncurkan pula album ke 6 GIGI yang berjudul “BAIK” . Ada yang istimewa di album keenam ini. “Si anak hilang” THOMAS RAMDHAN kembali memperkuat jajaran formasi GIGI yang posisinya di tiga tahun kemarin diisi oleh Opet Alatas. Dan GIGI seakan menemukan kembali komponennya yang sempat hilang, yang membuat formulasi komposisi-komposisi GIGI kian kokoh saja. Dengan hits andalan “Hinakah” Album GIGI – BAIK menginjak bulan kedua sudah mencapai penjualan 60.000 keping meskipun belum ditunjang dengan promosi penayangan video klipnya yang eksklusif (dikarenakan kapling acara di media televisi saat itu didominasi oleh kampanye-kampanye parpol dan talk show bernuansa politik yang memang ratingnya sedang tinggi). Dan….. Armand Maulana, Budhy Haryono, Dewa Budjana dan Thomas Ramdhan tetap berkeyakinan bahwa bagaimanapun keadaannya, apapun cobaan dan rintangannya, dengan segenap kepiawaiannya berolah musik GIGI akan tetap menggigit di sanubari penggemarnya dan masyarakat pada umumnya. Di tahun 1999 itu pula GIGI mengukir sejarah dalam karier musiknya dengan menggelar konser tunggal yang di beri nama “Konser Balas Budi” di Gedung Kesenian Jakarta dengan melibatkan puluhan pemain orkestra dalam konsernya itu.

    Konser ini merupakan ekspresi balas budi GIGI untuk semua pihak yang turut membantu suksesnya GIGI.

    Selain ditayangkan secara langsung dalam acara ekslusif oleh Indosiar, konser ini juga direkam secara live dan album live tersebut dirilis pada pertengahan tahun 2000 dengan judul “GIGI GREATEST HITS LIVE IN CONCERT”

    Tahun 2000, selain album “GIGI GREATEST HITS LIVE IN CONCERT” yang dirilis oleh Sony Music Indonesia, Sony Music Malaysia merilis pula ALBUM GIGI yang merupakan kompilasi dari album “KILAS BALIK” dan album “BAIK”.

    Agenda konser GIGI tahun 2000 ini cukup padat. Totalnya adalah 86 konser, termasuk di dalamnya adalah konser di Malaysia, Brunei dan Jepang.

    Tahun 2001 GIGI merilis Album ketujuh, yang berjudul “Untuk Semua Umur” dengan lagu andalan antara lain “Jomblo”, “Diva”. Album ini juga dirilis di Malaysia dengan label Sony Music Malaysia.

    Hal lain yang patut dicatat adalah di antara deretan agenda konser GIGI sepanjang tahun 2001 ada 3 buah konser yang digelar di manca negara yaitu: California-USA, Tokyo-Jepang dan Malaysia.

    Tahun 2002, sewindu sudah grup musik GIGI genap berkarya semenjak terbentuk 22 April 1994 silam. Berkarya lewat lagu, GIGI mempunyai rona sendiri yang menghiasi raut wajah musik tanah air. Berbagai aliran musik terolah baik lewat para personilnya yang sempat bongkar pasang sejak kemunculannya hingga terakhir GIGI didiami Armand Maulana (vokal), Dewa Budjana (Gitar) Thomas Ramdhan (Bass), dan Budhy Haryono (drummer). Dari para personil berlatar belakang musik berbeda itulah GIGI mampu menyajikan musik berkualitas nan kaya. Jadi jangan heran kalau mereka piawai memainkan musik-musik ngepop-rock sampai beat jazz yang kadang ikut mengisi, atau eksperimen musik lainnya.

    Di usia 8 tahun pulalah GIGI kembali mencetak album yang berisikan lagu-lagu hits yang pernah dilambungkan sekaligus melambungkan nama mereka sebagai salah satu grup musik besar Indonesia. Lagu-lagu seperti Angan, Kuingin (Angan - 1994), Janji, Yang T'lah Berlalu/Nirwana (Dunia-1995), Oo….Oo….Oo…., Damainya Cinta (3/4), Terbang, Rindukan Damai (Kilas Balik-1998), Hinakah (Baik-1999), Jomblo (Semua Umur- 2001) masih sangat akrab di telinga kita. Dengan lirik puitis dan irama yang mudah diingat tak pelak lagi, hit-hit GIGI sering terputar di banyak stasiun radio dan begitu juga klip-klipnya.

    Album THE BEST OF GIGI yang dirilis pada bulan Juni 2002 ini memuat 14 lagu dimana dua diataranya adalah dua lagu baru yang belum pernah dirilis sebelumnya, yaitu Andai dan Jalan Di Bulan. Kedua lagu ini mempunyai basic track musik yang sama, yaitu dari akustik, yang mengingatkan kembali para penggemar GIGI akan lagu-lagunya yang catchy dan easy listening. Lagu Andai yang ciptakan pada periode Januari - Februari 2002 ini didaulat menjadi lagu unggulan di album ini. Ada cerita menarik dari penggarapannya. Waktu itu sempat terjadi perdebatan alot antar personil mengenai liriknya. Armand yang menggarap lirik ini sempat membuat 3 versi lirik, dan akhirnya pilihan jatuh pada versi terakhir dimana lirik itu sesuai dengan melodi dan nuansa lagunya. Isinya sendiri menceritakan tentang seorang pria yang meninggalkan selingkuhannya untuk dijadikan pilihan kedua. Video klip lagu Andai ini cukup unik, dimana tampil 'model dadakan seperti Sheila On 7, Andy (/rif), Yuke (The Groove), dan masih banyak lagi.

    Untuk lagu Jalan Di Bulan, GIGI menggarapnya saat promo ke Malaysia. Lagu ini menceritakan tentang bagaimana perasaan orang jatuh cinta itu, yang melayang serasa dibulan.
    Lantas bagaimana pendapat GIGI sendiri mengenai album THE BEST OF GIGI ini.
    'Album ini adalah persembahan terbaik dari GIGI. Dimana pilihan lagunya tidak terbatas pada lagu-lagu yang telah hit saja, tetapi juga lagu-lagu lain yang bisa disebut sebagai 'lagu eksperimen', seperti lagu Bumi Meringis dan Rindukan Damai,'kata Armand mewakili teman-temannya.

    Dan Alhamdulillah album The best of GIGI saat ini telah meraih Double Platium Awards dari Sony Music, dan itu berarti penjualan albumnya telah melampaui 300.000 keping.

    99-03
    GIGI 1999 - 2003

    Salam Kedelapan

    Inilah cara GIGI berucap salam kepada dunia dengan melemparkan album terbarunya, Salam Kedelapan. Tahun 2003 berarti tahun kesembilan bagi band bernama sederhana ini. Lho tapi kenapa judulnya Salam Kedelapan? "Ya karena ini adalah album ke-8, dan kebetulan proses rekaman dan penciptaannya telah usai di tahun 2002 kemarin pas GIGI masih berusia 8 tahun," ucap Armand sang vokalis yang rajin menulis lirik buat GIGI.

    Selama tiga minggu GIGI ngendon di studio mereka menggodok materi album berikut proses mixing. Materi sebenarnya banyak tercipta di luar studio, seperti inspirasi lirik yang tiba-tiba datang ketika terkena macet atau inspirasi lagu ketika di tengah-tengah tur. Hasilnya genap sepuluh lagu mengisi album ini.

    Dari segi musik GIGI merasa Salam Kedelapan cerminan dari kondisi mereka yang sedang santai hasil istirahat selama 6 bulan yang ternyata berguna sekali dalam mengendurkan tekanan. Begitu santai, ide-ide positif yang terbenam bisa muncul begitu saja. Tambahan lagi GIGI baru pertama kali ini berkesempatan berkolaborasi dengan sound engineer Stephan Santoso.

    "Permainan lepas kita berempat ketemu dengan ide-ide baru Stephan membuat nuansa segar banyak tertuang di materi album terbaru kita ini. Dari segi teknik, album ini memang terlihat musik GIGI banyak mengalami hal baru, salah satunya adalah kolaborasi GIGI dengan Stephan. Satu hal lagi yang menonjol di sini tampilnya barisan lirik yang lebih lugas dan positif dan olah vokal yang tidak terlalu banyak improvisasi," ujar Armand melengkapi.

    Alhasil album ini penuh dengan warna-warni GIGI yang mungkin bakal sedikit mengejutkan, tapi tentunya menyegarkan. Simak saja lagu pembuka album ini berjudul Terima Saja. Gebukan drumnya dari awal lagu sampai penutup asyik banget, ditambah teriakan nanananana, Hoy…nanananana, Hoy… yang lumayan bikin kaget tapi seru. Kebayang kan kalau lagu ini dibawakan langsung oleh GIGI. "Kadang dalam menulis lagu, kita memikirkan bagaimana lagu ini akan dibawakan langsung nanti. Mengingat kita menyukai aksi panggung yang memang benar-benar bisa main lepas di depan penikmat lagu GIGI dengan segala atraksi dan improvisasi. Belum lagi dengan bernyanyi seperti ini kita bisa lebih berinteraksi dengan penonton yang ada. Ini kan menarik dan membuat kita tambah semangat," tegas Armand lagi.

    Tembang kedua GIGI melaju lambat dalam Perihal Cinta. Temanya apalagi kalau bukan cinta. Lagu yang liriknya digodok lewat sms antara Armand dan Thomas ini jadi lagu unggulan yang sudah banyak terdengar di radio-radio tanah air. Dan sudah juga merajai banyak tangga lagu kita. Untuk video klipnya, Dimas Djayadingrat menyiapkan suatu konsep footage- dari dokumentasi perjalanan GIGI di Jakarta-Bandung dengan model klipnya, Nirina. Untuk tembang lembut lainnya ada Jatuh Padamu. Dari judulnya lagi-lagi sudah bisa ditebak temanya apa. Dan lagi-lagi untuk liriknya adalah hasil rembukan duet Armand-Thomas.

    Selebihnya GIGI lebih sering memainkan tempo yang medium dan lebih cepat seperti Kucari Yang Kau Mau, Salam, Wanita, Untukmu Teman, Ketakpastian, Rahasiaku dan Akhir Cerita. Mereka juga banyak bermain dalam irama dan lirik lagu yang lebih ceplas-ceplos. Seperti keunikan komposisi gagah berjudul Rahasiaku yang menceritakan kesombongan seorang laki-laki atas kejantanannya.

    Secara keseluruhan album terbaru GIGI ini melaju dengan tempo sedang yang rancak. Entah itu dari sound drum, akustik dan distorsi gitarnya atau sound bass yang kalau dipadu memang segar di telinga. Memaksimalkan energi empat sekawan ini dalam tuangan satu album.

    Masa rehat GIGI telah usai sejak merilis album The Best of GIGI. Kini mereka kembali dengan sikap santai yang berbuah positif. Kita sambut saja salam GIGI ini lewat Salam Kedelapan.

    ORIGINAL SOUNDTRACK BROWNIES

    Tahun 2004, GIGI kembali ‘dihantui’ dengan trauma ‘bongkar-pasang’ personel. Dalam masa penggarapan album Original Sound Track (OST) Brownies Budhy Haryono karena satu dan lain hal tidak dapat ikut aktif di studio rekaman. Karena album ini harus segera selesai seiring dengan akan dirilisnya film Beownies, atas referensi dari Budhy dan kesepakatan personel GIGI lainnya dilibatkanlah Hendy sebagai additional player menggantikan posisi Budhy Haryono.

    Album OST Brownies (yang termasuk album paling dinanti di tahun 2004 versi majalah Hai No.32 TH. XXVIII) ini diramu dengan takaran 5 lagu baru, 3 lagu aransemen ulang dan 2 lagu yang dicomot dari album-album GIGI sebelumnya. Hasilnya, sebuah pop yang manis, semanis mencicipi lezatnya BROWNIES.

    Album dengan resep pop manis ditaburi lirik yang easy listening ini, hadir sebagai album soundtrack film layar lebar dengan judul yang sama, BROWNIES. Film komedi romantik garapan sutradara Hanung Bramantyo ini dibintangi oleh Marcella Zallianty, Phillip, VJ Arie MTV dan Bucek. Alur ceritanya sendiri mengisahkan tentang seorang gadis kosmopolit yang sedang mencari arti sebuah cinta sejati.

    GIGI diberi kepercayaan penuh oleh SINEMART, rumah produksi yang menggarap film layar lebar ini, untuk membuat soundtrack nya. Inilah yang membuat GIGI tidak kehilangan warna walaupun GIGI harus tetap berpatokan dengan skenario film Brownies tersebut. Proses pembuatan lagu-lagu baru di album ini pun cukup sederhana. Sembari membayangkan adegan per adegan yang akan muncul, GIGI duduk bersama menggelar workshop sambil memainkan gitar ‘kopong’ dan terciptalah 5 lagu baru yang lebih segar.

    Kehadiran Hendy yang menggantikan posisi Budhy sangat berperan dialbum ini. Hendy diberi kebebasan bermain sesuai dengan style-nya dan selalu dimintai pendapatnya dalam mengaransemen sebuah lagu. Additional drummer yang memiliki nama lengkap Gusti Erhandy ini, pernah bekerja bareng dengan Erwin Gutawa Orchestra untuk konser-konser Chrisye dan Krisdayanti.

    Bisa Saja adalah single yang dipilih untuk menjadi single pembuka album ini. Lagu yang berirama pop-funky ini kental dengan suasan yang segar, liriknya bercerita sesuai dengan kisah dari film Brownies. Kemudian ada sebuah lagu paten yang mengandalkan dentingan gitar akuistik Budjana. Lagu tersebut dihadirkan pada sebuah lagu yang berjudul Cinta Terakhir. Lagu-lagu baru lainnya yang ada di album ini pun tidak kalah asik untuk dinikmati. Termasuk 3 lagu lawas yang diaransemen ulang.

    Ketiga lagu yang diaransemen ulang tersebut semakin enak disimak dan benar-benar jauh berbeda dari versi awalnya. Simak saja lagu Jatuh Padamu, yang diambil dari album SALAM KEDELAPAN (2003). Dilagu ini, GIGI tampil mempersembahkan Indra Lesmana pada Rhodes. Hasilnya, sebuah lagu yang melankolis. Lagu Selamat Datang Asmara pun tak tanggung-tanggung diaransemen ulang. GIGI merombak lagu yang dialbum asalnya, UNTUK SEMUA UMUR (2001), tampil dalam format full band, disini tampil dengan format akuistik. Dan lagu Tanpamu Sepi dari album BAIK (1999), juga dipilih untuk masuk dalam album ini. Lagu ini menjadi lebih nge-beat dan semakin enak disimak.

    Album ini sebagai pemanasan sebelum menyaksikan film layar lebarnya yang rencananya akan diputar dijaringan bioskop 21 bulan Januari tahun depan. Film yang tentunya bakalan ditunggu-tunggu, karna perpaduan antara cerita komedi romantis dengan musik GIGI yang ringan. Takaran yang sempurna ini, diyakini membuat Brownies ini semakin lembut sekaligus legit dan membawa GIGI Kita tersenyum penuh cinta tatkala mendengarkan dan menyaksikan BROWNIES.

    RAIHLAH KEMENANGAN

    Apa jadinya kalau lagu-lagu rohani Islam yang syahdu seperti Tuhan-nya Bimbo, di ‘acak-acak’ sama GIGI.Bakal menuai pro dan kontra kah?
    Tepat dua hari menjelang Ramadhan tahun 2004 ini GIGI meluncurkan album berjudul RAIHLAH KEMENANGAN, sebuah album religi yang mengangkat lagu-lagu rohani legendaris plus lagu karya GIGI sendiri. Apa sih yang mendorong mereka merilis album ini.

    Konsep album ini sudah dirumuskan sejak satu tahun yang lalu. Berangkat dari keprihatinan GIGI atas kurangnya apresiasi anak-anak jaman sekarang terhadap seni bernafaskan islami.

    "Pernah gue bawain salah satu lagu islami Bimbo di depan keponakan yang masih ABG, dan komentarnya, kok bawain lagu cupu (tua) begitu sih," cerita Armand.

    Dari pengalaman itu dia menyimpulkan bahwa anak-anak zaman sekarang mungkin kurang mengenal musik-musik islami karena seleranya kurang pas dengan mereka. Jadi kenapa musik dan aransemennya tidak dibuat mendekati selera mereka, sehingga jika mereka suka, akan menyanyikan dan syukur-syukur dapat menghayati makna lirik yang tergantung didalamnya.

    Proses pembuatan album sendiri tidak mengalami kendala yang berarti. Dewa Budjana yang notabene bukan muslim mendukung sepenuhnya, karena apa yang mereka kerjakan ini toh juga bisa diatasnamakan sebagai apresiasi seni.

    Akhirnya terkumpulah 10 lagu yang dikemas dalam album bertajuk Raihlah Kemenangan. Delapan lagu diambil dari lagu-lagu islami yang selama ini memang sudah sangat familiar. Sebutlah lagu seperti Tuhan (Sam Bimbo), Rindu Rasul (Sam Bimbo, Taufik Ismail), Ketika Tangan dan Kaki Berkata (Chrisye, Taufik Ismail). GIGI sendiri membawakan dua lagu ciptaan sendiri yaitu Hilang dan Karunia-Mu. "Lagu Hilang dari album GIGI ¾ yang diaransemen ulang. Kebetulan liriknya tentang ketuhanan. Sedangkan lagu Karunia-Mu, ciptaan Thomas, sebenarnya adalah materi untuk materi album ke-9, karena liriknya juga tentang ketuhanan jadi cocok untuk dimasukkan di album ini," jelas Armand.

    ROCK HABIS

    Jangan kaget jika mendapati lagu–lagu di album ini beda dari pakem kebanyakan lagu islami. Pokoknya ngerock habis. Lagu Tuhan yang aslinya syahdu dan mendayu, digubah habis menjadi ngerock ala GIGI, dengan adanya tarikan gitar distorsi dan isian brass section. Mantap dan berisi. Tak salah lagi jika lagu yang selalu menjadi anthem pada setiap bulan Ramadhan ini dipilih sebagai hit jagoan. Pada lagu Ketika Tangan dan Kaki Berkata, GIGI menyuguhkannya dengan style rock yang digabung dengan isian rap. Hasilnya, sungguh menggetarkan! Pada lagu Lailatul Qadar, kocokan gitar dan drum digeber dengan tempo cepat, dengan loop – loop yang membalut lengkingan vokal Armand.

    Tidak semua lagi diusung dengan style rock. Dalam lagu Keagungan Tuhan yang aslinya memang bertempo pelan, dibawakan secara simple dengan petikan gitar yang ritmis. Sementara sebagai penutup, dipilihlah Raihlah Kemenangan, lagu berimama mid tempo dengan alunan gema takbir yang bersahut-sahutan.

    Dengan segenap musik yang diaransemen sedemikian rupa ini GIGI berharap bisa masuk ke selera penggemar muda. Kalaupun ada yang kontra terhadap karya ini adalah sah- sah saja. Yang pasti musik adalah bagian dari seni, dan siapa saja berhak untuk menginterpretasikan. Yang penting esensi dari lagu-lagu yang ada di album ini tidak berkurang kadarnya.

    Untuk mendukung album ini, GIGI siap menggeber tur ke lebih dari 15 kota di Jabotabek, Jabar, dan Jateng dalam tur bertajuk MUSIK NGABUBURIT DAN GEMA RAMADHAN. Konser yang digelar menjelang buka puasa ini akan diisi juga dengan Dai kondang Gito Rollies dan Sujiwo Tedjo. Semoga apa yang telah diupayakan GIGI ini bisa diterima oleh masyarakat sebagai sarana hiburan yang positif. Amien.

    Dan………setelah penggarapan dua album serta puluhan konser di paruh tahun 2004, ‘kebersamaan’ Hendy di GIGI sebagai additional player akhirnya resmi diproklamirkan sebagai drummer GIGI.

    RAIHLAH KEMENANGAN (Repackage)

    Setelah sukses dengan album rohani RAIHLAH KEMENANGAN yang dirilis tahun lalu, kini GIGI mengemas ulang album itu. Kali ini Armand (vokal), Dewa Budjana (gitar), Thomas Ramdhan (bass), dan Hendy (drum) menambahkan dua buah lagu daur ulang, yaitu Perdamaian dan I’Tiraf. Jadilah album RAIHLAH KEMENANGAN REPACKGE yang diluncurkan tepat pada 19 September 2005.

    Alasan apa yang mendasari GIGI mengemas album repackage tersebut ?

    “Pihak label (SONY BMG) lah yang meminta kita untuk merilis setelah melihat kesuksesan dari penjualan album Raihlah Kemenangan. Waktu itu ada 4 lagu yang disodorkan, dan kami pilih lagu Perdamaian dan I’tiraf. Kami menggarapnya sekitar empat hari, tepatnya sebelum kami berangkat ke Amerika untuk menggelar “GIGI East Coast America Tour 2005,” tutur Armand.

    Kenapa pilihan jatuh di dua lagu itu ?

    “Lagu Perdamaian tuh legend banget diantara lagu-lagu marawis atau qasidah-an. Dan liriknya sangat cocok dengan kondisi dunia khususnya bangsa Indonesia saat ini. Ada peledakan bom di Bali , kondisi Aceh yang belum sepenuhnya pulih, dan banyak lagi,” jelasnya lagi.

    Lagu Perdamaian ciptaan Drs. H. Abu Ali Haidar yang versi aslinya sarat dengan irama marawis itu dibesut menjadi sangat rock ultra modern khas GIGI namun tanpa kehilangan jati diri lagu itu.

    Adapun lagu I’Tiraf, tembang rakyat karya Abu Nawas, sesuai dengan warna musik aslinya yang bertempo lambat, dibawakan oleh GIGI dengan sangat syahdu, dengan variasi up beat tempo pada interlude.

    Terjunnya GIGI dalam ranah musik religius ini menjadi terobosan sukses mereka. Ini dimulai dari album RAIHLAH KEMENANGAN yang diirilis dua hari menjelang Ramadhan 2004. Publik dibuat geger mendengar lagu Tuhan (Sam Bimbo) yang mendayu dibesut menjadi sangat nge-rock. Demikian juga dengan lagu Rindu Rasul (Sam Bimbo, Taufik Ismail), Ketika Tangan dan Kaki Berkata (Chrisye, Taufik Ismail). Dan ternyata terobosan itu mendapat tempat di masyarakat pencinta musik tanah air terutama anak-anak muda. Misi GIGI untuk mengenalkan musik bernafaskan islami dengan style dan aransemen selera anak muda mengena. Terbukti dalam setiap konser Ramadhan selalu dipenuhi para penggemar GIGI yang hapal hampir semua lagu-lagu yang dibawakan.

    Harapan GIGI persembahan RAIHLAH KEMENANGAN REPACKAGE ini pun dapat diterima seperti album sebelumnya. Semoga bisa masuk ke telinga dan hati penggemar GIGI semua. Amien.


    Untuk mendukung album ini, GIGI siap menggeber RAMADHAN TOUR ke lebih dari 20 kota di Jabotabek, Jabar, dan Jateng. Sebagai kick off, mereka menggeber pertunjukan pada 4 Oktober 2005 di Teater Tanah Air - Taman Mini Indonesia Indah pukul 8 malam. Mereka juga menggelar pertunjukan ke sejumlah pesantren dan berkolaboraso dengan anak-anak pesantren setempat.

    NEXT CHAPTER

    22 Maret 2006 GIGI tepat memasuki angka 12 tahun. Sebuah perjalanan yang panjang bagi sebuah band yang pernah mengalami pasang surut di Industri musik. Bagaimana mereka mulai tumbuh, menjadi besar, mengalami konflik internal yang berujung pada pergantian personil, mengalami masa-masa saat menjadi rock star, hingga matang dalam kedewasaan.

    Tepat di usia 12 tahun, mereka merilis album baru sebagai bingkisan khusus untuk para GIGIKITA (sebutan buat para penggemar GIGI). Album bertajuk NEXT CHAPTER, mengemas 11 tembang yang dibesut dalam konsep musik yang easy listening dalam bangun harmoni minimalis. Suatu kejutan bagi para penikmat musik GIGI manakala mereka biasanya mendapati musik GIGI yang kental dengan eksplorasi sound rock kini ditampilkan lebih rileks dan seperti ajakan ‘ayo kita menikmati musik tanpa harus berpikir.’

    Apakah GIGI memang berniat meninggalkan pakem musik yang selama ini teguh mereka pegang?

    Baik Armand Maulana (vocal), Dewa Budjana (gitar), Thomas Ramdhan (bass), dan Gusti Hendy (drum), sepakat mengakui memang album terbaru ini lain daripada album-album sebelumnya. Menurut mereka proses pembuatan materi album ini benar-benar dikerjakan dalam suasana yang santai dan rentang waktu yang cukup panjang. Mulai digarap sebelum dirilisnya album Raihlah Kemenangan Repackage, kemudian sempat break karena tur ke Amerika, hingga digarap secara intens pada sebulan terakhir sebelum dirilis.

    Suasana yang santai berpengaruh pada proses kreatifnya, sehingga tak ayal membuahkan karya yang terkesan lebih rileks.

    “Kita tidak mematok lagu ini musti begini atau begitu, tapi begitu diolah di studio hasilnya memang punya rasa yang sama yaitu mood yang santai, “jelas Budjana.

    Thomas juga sependapat. Menurut pembetot bass ini beberapa lagu dasar memang upbeat dan nge-rock, tetapi begitu digarap lagi, ujung-ujungnya beatnya medium.

    Apapun hasilnya, yang pasti album ini adalah murni pencapaian GIGI saat ini yang apa adanya. Walaupun album ini kesannya santai, proses penggarapannya tetap sesuai prosedur GIGI. Hasilnya, baik sound maupun aransemen tetap terjaga kerapihannya. Bahkan keselarasan rhythm section-nya pun lebih mantap di album ini. Menurut Thomas, baik dirinya maupun Hendy sebagai pemegang rhythm sangat komunikatif. Proses ‘pacaran’ yang dimulai sejak masuknya Hendy di album OST. Brownies telah sampai pada tahap mengerti satu sama lain. Hasilnya, saat penggarapan album pun relatif mudah dan ‘hidup.’

    DARI TEMA CINTA HINGGA SOSIAL

    Tema cinta tetap kental di album ini, yang diungkapkan secara lugas dan apa adanya. Misalnya dalam lagu Kepastian Yang Kutunggu, yang menjadi hit unggulan, bertutur tentang kegundahan seseorang yang sedang menunggu kepastian cinta. Selain itu adalah tema sosial, yaitu kepedulian GIGI akan nasib bangsa yang diungkapkan dalam dua lagu yaitu Indonesia dan Satu.

    MAKNA 12 TAHUN

    Bagi GIGI memaknai angka 12 tahun tidaklah muluk. Bagi mereka masih bisa tetap bermain musik, tetap dalam satu visi dan energi yang sama, adalah pencapaian yang luar biasa.

    PINTU SORGA

    Sungguh suatu kenikmatan manakala kita masih diberi kesempatan untuk bertemu kembali dengan bulan suci Ramadhan 1427 H. Bagi kelompok band GIGI, kesempatan itu tidak mereka sia-siakan. Saatnyalah GIGI kembali melakukan syiar Islami dengan cara mereka sendiri. Ya, menyambut Ramadhan, GIGI merilis album rohani terbarunya berjudul PINTU SORGA. Ini adalah kali ketiga GIGI berkecimpung dalam ranah musik Islami setelah sebelumnya sukses merilis album Raihlah Kemenangan (2004) dan Raihlah Kemenangan Repackage (2005).

    PINTU SORGA menampilkan 10 tembang rohani Islam dimana kebanyakan isinya adalah lagu Islami populer yang musiknya diaransemen ulang secara segar oleh GIGI dengan nafas pop, rock, hingga punk dan new wave.

    Single yang dijagokan adalah PINTU SORGA. Lagu tradisional yang aslinya berasal dari Syria ini dibesut secara full rock dengan menggamit pujangga Taufiq Ismail sebagai penulis lirik lagu. Taufiq Ismail dengan kepiawaiannya merangkai lirik-lirik puitis, menuturkan mengenai anak manusia yang berusaha untuk menggapai pintu sorga, mencari keridhaan Allah SWT.

    Dari sisi musikalitas, GIGI tampil secara variatif. Simak saja dalam Sajadah Panjang. Lagu yang versi aslinya dinyanyikan oleh Bimbo dengan syahdu tersebut dibesut dengan hentakan modern rock. Atau dalam lagu Sahur Tiba, karya AT. Mahmud, yang menampilkan secara unik paduan suara Gigikita (penggemar GIGI) dan deretan pemain brass section. Sedangkan pada lagu Damai Bersamamu, GIGI tampil dengan menyuguhkan bintang tamu Andi Rianto pada piano. Dari sepuluh tembang yang ada, dua diantaranya adalah lagu karya GIGI sendiri. Yaitu Kehendak-Mu, yang sebelumnya masuk dalam album kompilasi KITA UNTUK MEREKA. Serta lagu berjudul Dosa Ini, dimana musiknya diciptakan oleh Dewa Budjana, dan lirik digarap oleh Armand.

    Dilihat dari isi materi lagu yang kuat, album PINTU SORGA ini diharapkan dapat meraih kesuksesan seperti di album Raihlah Kemenangan. Dan yang lebih penting lagi, menjadi sarana syiar alternatif untuk anak-anak muda Indonesia.

    PEACE, LOVE ‘N RESPECT

    Musik adalah pengikat kebersamaan kami. Kami hidup untuk musik dan musik pulalah yang menghidupi kami. Sampai kapanpun kami akan terus mempunyai passion di musik. Inilah resep yang membuat kita bertahan hingga tiga belas tahun. (Armand Maulana – vokalis GIGI).

    Di usia ketigabelas ini GIGI kembali berkarya lewat album berjudul PEACE, LOVE ‘N RESPECT, yang sebenarnya merupakan kalimat ikon GIGI yang selalu diucapkan mereka dari tahun 1995 dan baru sekarang akhirnya kalimat tersebut dijadikan title album. Berbeda dari album-album sebelumnya, kali ini Armand Maulana (vocal), Dewa Budjana (gitar), Thomas Ramdhan (bass), dan Gusti Hendy (drum), mengemasnya dengan format akustik (unplugged).

    “Ide membuat akustik album sebenarnya sudah muncul sejak lima tahun lalu. Kebetulan GIGIKITA (penggemar GIGI) juga banyak meminta kita membuat format seperti itu. Dan ini adalah album yang belum pernah dibuat oleh GIGI selama 13 tahun berada di musik Indonesia” jelas Armand.

    BUTUH KREATIVITAS TINGGI

    Kalau sebelumnya GIGI membuat format akustik untuk satu lagu dalam satu album, kini mereka harus membuat untuk satu album full. Di telinga awam, akustik itu identik dengan musik genjrang genjreng belaka. Padahal kemasan akustik itu menuntut detail dan kreativitas dalam membuat aransemen dan sound sehingga satu lagu dengan lagu yang lain tidak sama. Jadi tidak terbayang bagaimana seru dan stress-nya mereka mengulik lagu di studio (kabarnya GIGI khusus dibuatkan studio baru oleh Pos Entertainment, managemen yang membawahi mereka, sehingga mereka konsen menggarap album). Hendy sang penggebuk drum mengaku butuh waktu 14 jam take rekaman untuk dapat sound yang pas. Sementara Budjana harus bereksplorasi dengan hanya berbekal gitar string dan nylon. Atau Thomas yang harus menyesuaikan agar line bass-nya selaras dengan gebukan drum. Sedangkan Armand yang mengisi vokal ditantang menghasilkan suara sebersih mungkin tanpa sound effect pada suaranya kecuali reverb dan delay.

    NAKAL

    Jangan kaget jika mendengar lagu NAKAL yang digeber sebagai single pertama. Lagu ini sarat dengan eksplorasi kejahilan masing-masing personil GIGI dalam bermusik dan iramanya sedikit keluar dari pakem musik GIGI. Lagu ini dibuat secara tidak sengaja saat GIGI menunggu grup band /rif menggelar general reherseal untuk sebuah pementasan bareng. Awalnya lagu ini bercerita tentang pemanasan global, tetapi setelah hasil listening session bersama orang – orang di kantor Pos Entertainment dan atas usulan mereka, liriknya diubah menjadi lebih santai tentang seseorang yang tidak kuasa menahan rayuan maut seorang wanita.

    Puas dengan lagu Nakal yang membuat adrenalin naik, kini saatnya mengendurkan saraf dengan nomor ballad bertajuk 11 Januari, dimana lagu ini diciptakan oleh Budjana dan liriknya ditulis oleh Armand. Lagu yang easy listening ini mempunyai lirik yang ‘dalam’ sekali tentang sepasang manusia yang ditakdirkan bersama dalam suka maupun duka. Tampilnya string section mengiringi petikan gitar semakin membuat lagu ini semakin apik.

    Simak nomor lama ciptaan Thomas, Kembalilah Kasih, lagu yang pernah dibawakan oleh Anggun di album terakhirnya sebelum go international. Kalau Anggun membawakannya dengan gaya hard rock era 90-an kini GIGI mendaurnya menjadi musik yang kalem penuh ratapan kesedihan. Disini Indra Lesmana didaulat mengisi piano.

    Lagu dengan tempo agak cepat dapat dinikmati dalam nomor seperti Matikan Cintaku atau Tuk Rasa……Tuk Cinta. Dua lagu ini mempunyai mood elektrik, tapi GIGI mengimplementasikannya dengan gaya akustik. Tak ketinggalan menyeruak nomor vintage bergaya 70’an dalam lagu Percayalah, dimana ada permainan perkusi dari Adjie Rao yang semakin menghidupkan suasana.

    Akhirnya PEACE, LOVE ‘N RESPECT tak sekedar album, tapi manifestasi dari energi positif GIGI dalam berkiprah di industri musik tanpa kehilangan identitas diri.

  • Sumber : http://www.gigionline.com

SIKSAKUBUR

Death Metal / Metal / Thrash
SIKSAKUBUR pertama kali di bentuk pada 6 july 1996. nama ini diambil dari band yang menjadi tolak ukur mereka dalam bermusik yaitu SEPULTURA yang berarti kuburan band memulai debut nya dari event-event UNDERGROUND mulai menarik perhatian para pecinta musik DEATH METAL dibulan july hingga september tahun 1996 SIKSAKUBUR mulai masuk studio rekaman yang bernama K-studio yang mengemas 9 lagu yang dituangkan dalam sebuah album THE CARNAGE yang dirilis dan didistribusikan oleh EXTREME SOUL PRODUCTION dalam sebuah kaset & CD. Album ini mendapat tanggapan yang positif dari kalangan pemerhati musik UNDERGROUND khususnya album ini terjual 1000 keping CD & 500 copy kaset, walaupun kwalitas dari album ini sangat kurang dikarenakan minimnya perlengkapan studio rekaman. Sukses dengan album pertamanya bulan November 2001 SIKSAKUBUR merekam 9 lagu dan dibubuhi 1 (intro) yang dituangkan kedalam album kedua BACK TO VENGEANCE yang didistribusikan oleh ROTTREVORE records dalam sebuah format kaset, penjualan album ini termasuk fantastis dalam kurun waktu 1 bulan telah terjual 750 copy kaset walaupun hasil rekaman inipun masih kurang sempurna tapi lebih baik dari album pertama. SIKSAKUBUR mulai merambah event-event di Indonesia khususnya dipulau jawa hingga bali. Formasi album THE CARNAGE and BACK TO VENGEANCE adalah Japra (vocal), Andyan gorust (Drum), Ade godel (gitar), Burgenk (Bass) tapi setelah album kedua dirilis ADE GODEL mengundurkan diri dari SIKSAKUBUR karena tidak bisa membagi waktunya dengan band, disusul dengan BURGENK yang mengundurkan diri dari band karena harus melanjutkan study keluar negeri. Posisi ini di gantikan oleh Andre yang juga gitaris REVITOL dan Yudhi bebek ex- AUTHORITY, dengan formasi ini SIKSAKUBUR mengeluarkan album ke tiga yang bertitel EYE CRY album ini dirilis dan didistribusikan oleh ROTTREVORE records dalam format CD dan KASET album inilah yang membuat SIKSAKUBUR mendapat perhatian lebih dari media massa dan elektronik. SIKSAKUBUR merambah event-event bukan hanya event UNDERGROUND saja tapi event yang bukan UNDERGROUND sampai pentas seni sekolah SIKSAKUBUR menjadi headliner dalam acara tersebut ini sebagai bukti bahwa musik DEATH METAL yang dimainkan oleh SIKSAKUBUR mulai mendapat perhatian lebih, bukan hanya di Indonesia tapi hingga mancanegara khususnya SINGAPURA dan MALAYSIA. Karena july tahun 2005 lalu SIKSAKUBUR menjadi headline pada sebuah event metal di singapura. Album THE CARNAGE dan BACK TO VENGEANCE akhirnya dirilis oleh FROM BEYOND record (belanda) ini adalah sub label dari DISPLASEDrec yang merupakan salah satu label METAL besar di amerika album ini dikemas kedalam bentuk CD yang didistribusikan Bukan hanya di ASIA tapi benua EROPA dan AMERIKA. > Setelah lebih dari 10 thn berkiprah di Blantika musik metal Indonesia SIKSAKUBUR telah merilis 4 AlbumPodi yaitu THE CARNAGE, BACK TO VENGEANCE, EYE CRY dan PODIUM yang juga merupakan album terakhir dari drummer sekaligus pendiri SIKSAKUBUR yaitu ANDYAN GORUST. Namun setelah mengalami masa2 sulit dan masa pencarian pemain drum, akhirnya SIKSAKUBUR mendapatkan drummer baru yaitu PRAMA [ ex- ALEXANDER.LAST SUFFER] dan SIKSAKUBUR pun siap untuk kembali dengan formasi baru ini....so WATCH OUT !!!! ------------------------ please add us: brutaldeathmetal_siksakubur@yahoo.com <<<<<<<

Tengkorak

In the late of 1993 Ombat, Danang, and Yoyok formed a band named TENGKORAK - Mainly influenced by one of grindcore pio'neer from England NAPALM DEATH. TENGKORAK originally consisted of four guys : M. Hariadi 'Ombat" Nasution (Growls), Danang Bhudiarto (Bass), Yoyok Radianto (Guitars), Denny Julianto (Drums).

tengkorak

Later, In the fall 1994 Adam Mustofa coming up on guitar. With this line up, TENGKORAK was the first Grindcore band with a brutal death touch which released rnini "Demo Tape" Album in Jakarta. The title is "It's a Proud to Vomit Him" contains of 4 songs: Primitive Jokes, Aggression, The Grave Torment and Bencana Moral (a song in Indonesian language).
After played some gigs in promoting the first releases, Adam has to quit cause of his first job ! But . the band still rule, even with one guitar got no impact on our music ! In the early of 1997, TENGKORAK tried to spread their destructive stuffs to all over the world of Underground . Realizing risen from unknown scene, TENGKORAK strongly promoted their stuffs by sending it to the tape traders, distro, bands, magazine, label etc. Anyone who involved in Underground scene !

This effort make good result, TENGKORAK has sold their demo tape not only in Indonesia but also in other countries worldwide . At least TENGKORAK prove the existence of Indonesian Underground bands ! This could be happened by big help of distro, magazine, bands and tape traders from other countries !!! So that, TENGKORAK had their foreign distro like: U.S.A, MALAYSIA, JAPAN, FRANCE, CZECH REP., RUSSIA, LATVIA, SPAIN, POLAND, BELARUSS, CANNADA, SINGAPURE, INDIA, THAILAND, HOLLAND, MEXICO, ITALY, BRUNAI DARUSALAM etc…!

As a result, one of this distro (BLOODBATH RECORDS JAPAN) interested in released TENGKORAK on vinly 7" EP, it make TENGKORAK is the first Indonesian Underground band which release 7" EP in Indonesia!!! The title is "Dying Poor".
In November 1997, TENGKORAK were in HIJAU Studio to record one song entitled "Konflik' for Metalik Klinik (Indonesian Underground Compilation).... , not long after they got a deal with one of the biggest recording company in Indonesia...... Musica!..... and pioneered other Indonesian bands to take part in this project ! Finally, at the end of Decembre 1997 " METALIK KLINIK" compilation cassette was in store !!! It's nationally distributed in Indonesia by MUSICA RECORDS INDONESIA. Until January 1998, It's been sold 60.000 copies in Indonesia only !!! Unfotunately, We had to fired our old drummer .... Denni Julianto, we couldn't get along with him anymore cause his bad attitude toward all of us ! So.... We played with sessionist drummer named Donni from our neighbourhood band SUFFERING. In addition Hella Tanisan (Ex- TRAUMA). Coming up on Guitar line up, taking over the duty that Adams left long time ago !! After played 2 gigs, we diceded' to keep Donnirimata as a permanent member, it means he' s SUFFERING no more. The current line up are : M. Hariadi "ombat" Nasution, SH., (Growls), Danang Bhudiarto, SH. (Bass), Haryo "Yoyok" Radianto, SI-H (Guitars), Hella Tanisan (Guitar), Donni Rimata (Drums).

March-April 1999, TENGKORAK back in Magenta Studio to record their first full length album which will be entitled KONSENTRASI MASSA. This album contains of 20 songs, like OKNUM, ASAP TEBAL, GAWEAN REGET, PRIMITIVE JOKES,, KEMELUT, KONSENTRASI MASSA, SPEKULASI BISNIS, PENJILAT, PRESTASI GILA.. BURUH, BISNIS EJAKULASI, CACAT POLITIK, DOSA KELUARGA.,, BENCANA MORAL, DISKRMNASI,, CHAOS OR RIOT,, AZTEC, DOGMA, PROPAGANDA etc, completed by extreme outro SERAKAH as an ilustration of government greed's. KONSENTRASI MASSA album produced by ROTOR CORP and nationally distributed by MUSICA STUDIO'S. previously distributed by our co- workers indie label world wide,, this album expected could be widely spread through the unknown scene in Israel, Belarus, Czeh Republic, Portugal etc. One month later, Heilla Tanissan quit the band because of his own reasons (replaced by unknown moron named Opick in the earlier of 2000). Followed by our drummer departure a year after, in order to pay more attention in his study, then Denni Julianto (TENGKORAK's old drummer) came back from the grave in the fall of 2001. During Denni comeback everiting didn't really worked for us. So we are very welcome when our previous Drummer ( Donnirimata ) to joint the team after rescheduled his study. The formation back as the earlier TENGKORAK, 5 Grindsters !!!. Aril 2001 Tengkorak Konsentrasi Massa has been released in Japan. Since Mei 2002 Donni has been playing with us and TENGKORAK ready to conquered 16 place on forth coming MONSTER OF ROCK TOUR (Gudang Garam Tour) with SUCKER HEAD, EDANE, PAS, BETRAYER.

May 2002, TENGKORAK back in studio to record "Pluit Phobia" as a TRIBUTE TO ROTOR project which produced by Rotorcorp & Sebelas April Rec. contains of 12 Indonesian bands plus one Malaysian band SIL KHANNAZ. Soon after this project, TENGKORAK will be preparing their material for the next LP With Title Abum "DARURAT SIPIL" contains of 14 track and Outro in September 2002. We still known as GRINDCORE SICKFUCKER and still spread the grind disease at the world wide scene!

Sucker Head

Biography Berawal pada tahun 1987 saat secara tidak sengaja terbentuk sebuah komunitas penggemar musik metal di Pid Pub, sebuah pub kecil di kawasan Metro Pondok Indah. Di sinilah setiap malam minggu digelar acara konser kecil-kecilan yang dikelola secara bergantian oleh masing-masing band. Berjalan sekitar 2 tahun, semakin besar komunitas ini sampai keluar Jakarta, bahkan gaungnya sampai keluar negeri dan semakin banyak pula band-band metal terbentuk dan bergabung disini, salah satunya adalah Sucker Head.

Sucker Head members (Click to see larger picture)

Adalah Irfan Sembiring (gitar), Krisna J Sadrach (bass) dan Yaya Wacked (vokal) pada tahun 1989 telah bersepakat untuk membentuk Sucker Head dengan merekrut Nano (gitar) dan Doddy (drum). Nama Sucker Head sendiri diambil dari tulisan merk dagang sebuah kotak korek api batang cap koin, tulisan aslinya adalah ‘SAKERHETS-TANDSTICKOR’. Line up pertama ini sangat terpengaruh pada Kreator, sebuah grup thrash metal asal Jerman.

Akhir 1990, Yaya Wacked keluar karena alasan manajemen dan bersolo karir, demikian pula dengan Doddy yang sibuk urusan sekolah. Seorang drummer baru pun direkrut, Alfredo menggantikan posisi Doddy, sedangkan di posisi vokal dirangkap sendiri oleh Irfan sambil tetap memainkan gitarnya.

2nd Line up (Jan. 1991): Irfan Sembiring (gitar/vokal), Nano (gitar), Krisna J. Sadrach (bas) dan Alfredo (drum).

Tahun 1992 adalah saatnya Sucker Head mulai membuat lagu-lagu sendiri untuk mencoba bikin album. Ternyata semakin banyak lagu terkumpul, semakin terasa bahwa Irfan mempunyai idealisme yang berbeda yang tidak bisa diterima oleh 3 anggota lainnya. Akhirnya Irfan mengundurkan diri dan membentuk Rotor.

Posisi Irfan digantikan oleh Untung, sorang gitaris thrash asal Cimahi, Bandung.

3rd line up: Krisna J. Sadrach (bas/vokal), Nano (gitar), Untung (gitar) dan Alfredo (drum).

Awal 1994 Sucker Head mulai lagi meneruskan membuat lagu untuk melengkapi materi album pertama, namun kembali terhambat oleh Alfredo yang waktu itu masih study di SMA. Keputusan cepat pun diambil dengan menonaktifkan Alfredo dan merekrut drummer baru Robin Hutagaol yang waktu itu masih main di Grausig.

Tahun 1995 Sucker Head mendapat deal dengan label Aquarius Musikindo untuk merilis album pertama “The Head Sucker” dengan line up: Krisna J. Sadrach (bas/vokal), Nano (gitar), Untung (gitar) dan Robin Hutagaol (drum).

Album perdana ini ternyata mendapat sambutan yang baik sehingga pihak labelpun melanjutkan kontrak band ini untuk merilis album-album selanjutnya.

1996, album ke 2 “Manic Depressive” dirilis dengan formasi line up yang sama.

Tahun 1998 pada saat workshop untuk pembuatan album ke-3, Robin mengundurkan diri dan membentuk Brain The Machine sehingga workshop dan rekaman pun dilanjutkan dengan drummer baru Bakar Bufthaim yang pada saat itu baru keluar dari Rotor. Sebenarnya Bakar bukan orang baru buat Sucker Head, karena sebelumnya posisi dia adalah back up drummer apabila Robin berhalangan, dan dia juga sempat mengisi drum 1 lagu di album “The Head Sucker”. Album ke 3 “Paranatural” akhirnya dirilis berbarengan dengan dimulainya neraka krisis moneter di negara kita. Album ini juga dirilis di Malaysia di bawah label Pony Canyon.

Line up: Krisna J. Sadrach (bas/vokal), Nano (gitar), Untung (gitar) dan Bakar Bufthaim (drum).

Tahun 1999, dalam rangka memperingati 10 tahun berdirinya Sucker Head, maka dirilislah album ke 4 “10 th Agresi” yang isinya adalah kompilasi lagu-lagu dari 3 album terdahulu ditambah 3 lagu baru dengan konsep yang lebih fresh.

Tahun 2003 para personil Sucker Head kembali mengadakan workshop untuk mencari konsep baru dalam membuat lagu-lagu dengan musik yang lebih modern namun tetap extreme !

Dengan berbekal studi banding pada waktu konser selama tahun 2002 dan ditutup dengan tour Monster of Rock 2002 di Jawa Tengah, maka dirancanglah album ke 5 dengan konsep lagu yang ‘heavy groove & tight metal’.

Februari 2004 Sucker Head diminta sebagai grup pembuka untuk konser internasional sebuah band dari Jerman “Helloween Indonesia Tour 2004”. Desember 2004 album ke 5 ‘Hipertensi’ dirilis.

Discography : 1995 - album “The Head Sucker” 1996 - album “Manic Depressive” 1997 - kompilasi “Hits Of The Year 4” 1998 - album “Paranatural” 1999 - album “10 th Agresi” 2003 - kompilasi “Strip Hitam” 2004 - album “Hipertensi”

Betrayer

Betrayer, nama yang diambil dari salah satu judul lagu milik grup trash metal luar, Kreator dibentuk tahun 1991. Awal terbentuk, musik Betrayer banyak dipengaruhi oleh band-band pengusung musik sejenis macam Kreator, Suffocation, Deicide, Napalm Death, Cannibal Corpse hingga Pantera.
Betrayer
Bakat serta pengalaman musik band yang diperkuat oleh Ndaru (vokal, gitar), Doddy (bas) dan Akbar (dram) banyak ditempa di panggung-panggung musik underground di seputar Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan Bali, sebelum mereka ditarik untuk mendukung album kompilasi Metalik Klinik 1 ('98), produksi Rotorcorp/Musica dan menyumbangkan lagu Pasukan Kuning.

Belakangan, setelah band yang banyak mengusung tema ketidakadilan, kekerasan dan kemarahan dalam liriknya ini mengikat kontrak rekaman dengan Independen Record/Aquarius Musikindo dan menelurkan album Pasukan Berani Mati ('98) dan Hukuman Mati (2000), sempat terjadi perubahan personel. Ndaru hengkang dan digantikan Iik (gitar, vokal) dan Garry (gitar). Formasi ini pula yang kemudian mendukung album Betrayer (2002).

Saint Loco

Jagad rock tanah air seakan tak berhenti melahirkan band-band spektakuler untuk melaju ke barisan terdepan. Salah satunya adalah Saint Loco, band yang mengawali karirnya di kancah rock tanah air pada tahun 2004 dengan debut album bertajuk Rock Upon A Time. Album ini menjadi awal langkah sukses Saint Loco mengenalkan dirinya ke publik dengan mengusung lagu-lagu berkekuatan hip-rock. Berbagai pengImagehargaan berhasil mereka sabet diantaranya adalah; Best Rock Album versi Majalah Hai tahun 2005 dan Rock Best Of The Year Album versi I-Radio tahun 2005. Single "Microphone Anthem", yang menjadi unggulan mereka kala itu, berhasil mengejawantahkan Saint Loco sebagai penerus generasi musik rock Indonesia .

Di bulan September 2006, MTV mengganjar mereka dengan predikat MTV EXCLUSIVE ARTIST for SEPTEMBER. Album kedua mereka yang bertajuk Vision For Transition dirilis dibulan yang sama. Sebuah album yang menggambarkan progresi dari musikalitas keenam anak super kreatif; Iwan (gitaris), Gilbert (bassis), Nyonk (drummer), Tius (the spinner), Joe (vokalis) dan Berry (MC). Ini sebagai satu pegangan bahwa nama Saint Loco masih punya kekuatan untuk musik rock yang berkualitas.

Another Vision for Indonesia Rock Concept

Lewat album keduanya, Vision For Transition, Saint Loco menawarkan konsep musik yang lebih berani. Dari kulit albumnya (baca: cover) sudah terbaca keberanian Saint Loco dengan memberikan warna-warna berani dan penempatan yang terbilang tidak umum. Untuk isinya, rock yang dibawakan mereka kali ini lebih sing-a-long dibandingkan album sebelumnya meski tensi tonalitas rock mereka tetap tinggi. Dengarkan saja "Kedamaian", sebuah lagu mellow-rock yang menampilkan seorang vokalis bjorky-melankolis, Astrid. Lagu ini dibuka dengan dentingan piano dan dihantarkan dalam beat mid-tempo. Kekuatan lirik bilingual dan karakter vokal Joe dengan Astrid serta MC Berry menambah padu lagu yang menjadi single pertama album ini.

Penggarapan album Vision For Transition ini menempuh masa 7 bulan preproduction serta pengumpulan materi yang dimulai sekitar Agustus 2005 dan dilanjutkan dengan 3 bulan untuk recording dan 1 bulan mixing. Karena hampir seluruh lagu dalam album Vision For Transition dibuat di studio pribadi milik DJ Tius, Saint Loco kali ini merasa bisa lebih mengeksplorasi sound dan berkespresi sebebas mungkin. Dengar saja "Terapi Energi" dari track 2, sebuah lagu yang menampilkan totalitas bermain musik ala Saint Loco. ‘It’s the real Saint Loco’.

Mastering album Vision For Transition ini dikerjakan di sebuah studio bernama Euphonic Masters yang ada di Memphis , Tennese, Amerika Serikat. Ditangani langsung oleh Brad Blackwood, seorang insinyur tata suara kenamaan yang pernah menyabet 9 nominasi Grammy Award dan 6 nominasi Dove Award sejak tahun 1998.

Keberanian lainnya yang ditampilkan Saint Loco adalah permainan emosi lagu per lagu. Jika disimak dari awal runtutan lagu dalam album Vision For Transition ini, Anda akan dibawa banging your head lalu diselingi dengan fase exhaling berganti-gantian. Ini membuat fungsi pendengaran tidak terganggu dengan bunyi-bunyi yang pekak namun Anda akan dimanja untuk menikmati petualangan Vision For Transition ini dengan hati gembira. Mau contoh? Di track 5 kita akan disuguhi permainan kombinasi antara gitar akuistik dan crunch serta synth-string yang membuai yang hadir di lagu "Fallin". Beat middle di "Fallin" ini hadir sebagai penghantar untuk hentakan di track 6, "Get Up". Setelah lelah moshing dan jejingkrakan, track selanjutnya, "Centro", mengistirahatkan pendengaran dalam instrumentalia tembang passionate-electronica-sound sebelum dipecahkan lagi ditrack berikutnya, "Transition". Maka sayang sekali jika Anda menikmati album ini tidak utuh atau hanya satu atau dua lagu saja.

Why Vision For Transition Now?

Musik rock di Indonesia terus berkembang ke arah yang positif, thanks to Godbless! Dan Saint Loco melihat perkembangan ini sebagai motivator mereka untuk bisa berkreasi lebih. Trend musik rock dunia yang kini berkembang dengan memasukkan unsur Rap, Punk, New Wave serta electronica menjadi acuan Saint Loco untuk diterapkan dalam musik mereka. Dengar saja Vision For Transition yang kini lebih minimum aksi solo melodi gitar dan cenderung dominan lewat riff atau blocking gitar dan loop. Konsentrasi album ini pun dipusatkan di lagu yang lebih melodius dan reffrain yang catchy. "Musik metal telah berubah… ," tandas Saint Loco tegas.

Maka sambutlah salah satu ikon dari regenerasi musik rock tanah air, Saint Loco. Lewat Vision For Transition ini mereka kembali menghentak dan mencoba untuk menelusup kembali dan tampil berbeda dari yang sudah ada.

Saint Loco, Vision For Transition, are you ready to break your voice again?

Sumber : http://www.sonybmg.co.id

Pas Band

Pas mulai berdiri pada akhir tahun 1992 dengan formasi awal Bambang (gitar), Trisno (bas), Richard Mutter (drum), dan Yukie (vokal). Perjalanan karir dari panggung ke panggung walau pernah harus pinjam alat ke orang dan dibayar Rp. 25.000,00 sekali manggung tidak menjadikan surutnya harapan untuk maju.
Hal ini dibuktikan dengan pembuatan album indie label "4 Through The Sap" yang bermodalkan tabungan dan donasi simpatisan serta impian. Impian pun terwujud setelah 2500 kaset laku lewat sistem distribusi titipan di beberapa radio di Bandung dan Jakarta, toko-toko kaset dan membengkak sampai lebih dari 10.000 copy.

Sebuah terobosan yang mengharukan setelah demo Pas ditolak oleh beberapa Major Label menghasilkan suatu fenomena baru dalam pembuatan sebuah album rekaman yang selama ini didominasi oleh perusahaan-perusahaan rekaman besar. Sampai sekarang proses rekaman indie label terus berjalan dan semakin menjamur di berbagai kota di Indonesia.

PT. Aquarius Musikindo yang begitu jeli melihat potensi ini, mengkontrak Pas pada album "In(no)sensation", "IndieVduality", "Psycho I.D.", "Ketika...", "PAS 2.0" dan "Stairway to Seventh".
Richard Mutter (drummer) mengundurkan diri dari Pas setelah tour album Psycho I.D. berakhir.

Penggarapan album "Ketika..." tanpa Richard tidak menjadikan Pas berhenti untuk terus berkreasi dalam blantika musik Indonesia. Hal ini terbukti dengan dirilisnya album 2.0 pada 2003. Posisi Richard Mutter sebagai drummer telah digantikan oleh Sandy Andarusman (Mantan U'Camp) yang resmi pada album ke enam Pas sebagai drummer tetap setelah mendampingi Pas selama pembuatan album Ketika... sampai sekarang.

Purgatory

At the first, Purgatory was known as a Death Metal band that struggled in the time of ignorance in Indonesia. Any kinds of downfalls built these men even stronger and more optimistic in approaching their goal. Changes of members and performances brought them closer to perfection in improving their music, which obviously shown in their music and existence until now.

Purgatory had their debut in 1994 by releasing their first 6 (six) songs in mini album, ABYSS CALL. In 1998, Purgatory got their first contribution with their song SAKARATUL MAUT in a compilation called Metalik Klinik I, produced by Rotorcorp, which was also produced their album AMBANG KEPUNAHAN in the next year (1999).

Until then they improved them selves by adding turntable, sampling and one more vocal. In the end of 2003, this formation was established in album 7:172, featuring Eet Edane in a song titled PARANOIA, produced by ZR Production, with Sony Music Indonesia as the distributor. Echo of this album bounced longer than they expected, as how it attracted ears that put Purgatory in compilation albums.

2004, Morbid Noise Record put DRAGDOWN (7:172) in their compilation album called Metaloblast. As the next year, 2005, Purgatory made INSIDE you as one of the songs in the compilation album OST Gerbang 13, this song was also contributed in compilation album Revolution of Sound, produced by ZR Production and Sony/BMG as the distributor. In the same year, M.O.G.S.A.W (7:172) was chosen to be put in compilation album called Planet Rock, by Sony/BMG.

Then finally this year, Purgatory are : vocal SANDMAN, growl MADMOR, guitar L.T.F, guitar D.I.E, bass BONE, scratch & keys D’JACKAL, drums & samples AL, chosen to represent Indonesia by contributing one of their song DOWNFALL (The Battle of Uhud), in a project that Century Media (Germany) and Alfa Record (Indonesia) are now producing, aligned with the world’s most powerful names, as : Napalm Death, Lacuna Coil, God Forbid, Shadows Fall and others. The compilation album called The Art of Metal.

Ada Band

Terbentuk pada tahun 1996. Kala itu personel ADA Band adalah:
line Ibrahim Imran Gitar & Vokal
line Iso Eddy H Keyboard & Backing Vocal
line Elif Ritonga Drum
line Khrisna Balagita Keyboard/Piano

ADA BandPada tahun 1997, ADA Band merilis album pertama dengan judul "Seharusnya". Hingga kemudian istirahat 2.5 tahun dan merilis album kedua berjudul "PerADAban 2000" di bulan Juli 1999.

Setelah album kedua ini, Iso dan E'el hengkang dari ADA Band. Dengan bergabungnya Rama sebagai drummer maka dirilislah album ketiga dengan judul "Tiara" pada bulan Maret 2001.

Pada Desember 2001, Baim menyusul hengkang dan ADA Band sempat vakum selama 2 tahun.

Tahun 2003, ADA Band kembali menggebrak dengan formasi:

line Khrisna Balagita Keyboard/Piano
line Dika Satjadibrata Bass & Backing Vokal
line Rama Yaya Muktio Drum
line Marshall Suryarachman Gitar
line Donnie Sibarani Vokal

Dengan formasi ini, ADA Band merilis dua album, yaitu:

  • Metamorphosis
  • The Best of Discography

Formasi terakhir sepeninggal Rama adalah:

line Khrisna Balagita Keyboard/Piano
line Dika Satjadibrata Bass & Backing Vokal
line Marshall Suryarachman Gitar
line Donnie Sibarani Vokal

Dibantu beberapa Additional Musicians, pada 2004 ADA merilis "Heaven of Love", dan "Romantic Rhapsody" pada awal 2006.

From: http://ada.xoclate.com

Matta

BENARKAH sekarang eranya band-band 'kampung' merambah kota? Kampung penampilan, kampung kualitas musikal dan kampung tampilan fisiknya. Meski rasanya terlalu "menghakimi" tapi trend itu seperti ditahbiskan di ranah musik Indonesia saat ini. Padahal, urusan kampung atau tidak hanya urusan selera saja.

Lalu apakah ketika kemudian band dari Bandung bernama MATTA yang kebetulan musiknya sederhana dan tidak neko-neko, malah cenderung gampang, lalu disebut lagu dan band kampung juga? Entahlah, karena toh semuanya punya hak untuk berkarya dan menghasilkan lagu yang menurut mereka sudah bagus.

Padahal MATTA bukan kumpulan orang kampung loh, mereka adalah enam musisi yang suka mengeksplorasi musik yang mereka mainkan. Kalau lagu-lagunya di album perdana mereka cenderung 'meleyot' ke warna melayu, rasanya itu kompromi terhadap pasar industri yang mereka masuki. Meski dari latar belakang pendirinya, Sunu [vokal] adalah penyuka pop dan rock alternative, sementara Uwok [drum] justru drumer yang kesengsem dengan musik metal.

Personil lain yang bergaung kemudian seperti Dicky [gitar], Setia [bas], Igoy [gitar] dan Yudi [kibord] pun punya pilihan musikal yang berbeda dari funk, RNB sampai grunge. Ketika kemudian mereka melahirkan MATTA, yang muncul justru pop unik yang simpel dan mungkin bakal mendapat 'cercaan' mula-mula.

Pilihan musikal itu bukan tanpa alasan. "Kami memang ingin lagu kita bisa didengar orang sebanyak mungkin, bukan hanya untuk mereka yang mengerti musik," ujar Sunu. Dalam bahasa Sunu, apa yang mereka lakukan ini bagian dari eksplorasi. Apa yang mereka ungkapkan ini terasa sekali di single pertama berjudul 'Ketahuan'.

Mendengar single pertama ini, kita memang dibawa dalam suasana konyol dengan lagu pop, tapi diberi sisipan dangdut, meski tak dominan. "Dari nada awalnya saja, kita sudah terasa sentuhannya kok," ujar Sunu sambil tertawa. Video klipnya juga mulai rame diputar di televisi dengan model Julie Estelle yang digambarkan menjadi pacar dari semua personil band ini. MATTA juga tiba-tiba mengagetkan ketika membawa arus rock n' roll yang kental di lagu 'Playboy'. Cukup menggoda untuk band baru yang jenis musikalnya tidak beda dengan band-band lain.

MATTA memang sedang menapak di kancah musik Indonesia. Kalau eksplorasi mereka belum maksimal, rasanya mash wajar-wajar saja. Kecuali kalau sudah masuk deretan band lawas, tapi begitu-begitu saja, sama artinya dengan jalan di tempat. MATTA harusnya nggak begitu doong?

Peterpan

Not in the neverland tapi di Bandung, di kota yg memiliki potensi musisi paling creative di dalam negri inilah, Andhika, Ariel, Uki, Reza, Loekman dan Indra yg menamakan diri mereka peterpan memulai perjalanan kisah mereka. Dari album kompilasi "Kisah 2002 malam" garapan Kang Noey (yg basis Java Jive itu lho) dan di produksi Musica studio, kisah kesuksesan peterpan di mulai. Tapi sebelum itu, jauh sebelumnya di tahun 1997, ada perjuangan yg berliku untuk akhirnya mendapat moment yg happy ending. Andika (keyboard) yg punya jiwa bermusik dan ambisi yg besar, membentuk band Topi di tahun 1997, saat itu dia mengajak Uki (guitar) yg adik kelas Andika di SMU 2 Bandung. Uki lalu mengajak teman SMP nya, Ariel untuk bergabung dan memegang posisi vocalist. Andika juga mengajak teman mainnya Abel untuk memegang posisi basis dan Ari untuk posisi Drum. Dengan formasi inilah mereka mulai latihan bareng dan manggung kecil-kecilan, musik yg di mainkan beraliran Brits alternative. Sang drummer, Ari mengundurkan diri dan formasi band Topi pun undur satu persatu yg menandakan band ini akhirnya bubar tanpa sebab yg pasti.

Pada tahun 2000, Andika mengumpulkan lagi teman ngeband nya yg lulusan band Topi itu. Kali ini posisi drummer di pegang Reza, anak kuliahan dari Palu yg jago main drum. Untuk memberi warna musik yg lebih dewasa dan lebih kaya melody, bergabunglah Loekman, teman main kakanya Indra, yg akhirnya jadi lead guitar. Dengan posisi 6 personil inilah akhirnya mereka merasa puas. Setelah mendapatkan formasi tentu sekarang harus cari nama yg sesuai, yg bisa merepresentasikan musik mereka. Maka di ambilah nama peterpan yg dari pernjelasan Dika "dulunya dari peter band, peter artinya pemimpi yg pengin terbang", peterpan yg tokoh kartun anak2 menurut Dika telah mengalahkan karakter lainnya seperti Micky Mouse, Spiderman, X-men dll dalam pemilihan nama band dari Bandung ini (untung namanya gak X-men he..he..). Setelah di rembukan, peter band menjadi peterpan, mereka harap dengan nama tokoh kecil anak2 itu lah mimpi bermusik mereka bisa di bawa terbang dan di terima di seluruh negri ini. September tanggal 1 adalah terbentuknya peterpan secara resmi.

Perjalanan peterpan di mulai tahun 2001 dengan merambah dari café ke café di Bandung, harapan mereka saat itu sangat realistic dan simple, menjadi home band di café ternama di Bandung. Mereka main di café O'Hara dan Sapu Lidi dan bawain lagu-lagu top 40, alternative rock seperti Nirvana, Pearl Jam, Cold play, U2, Creed dll. Di café sapu lidi lah potensi mereka terlihat oleh Kang Noey yg memang sedang mencari band pengisi album kompilasi. Mereka mengirimkan 3 lagu demo, sahabat, mimpi yg sempurna dan taman langit. Lagu mimpi yg sempurnalah yg terpilih untuk di masukan ke album kompilasi Kisah 2002 Malam. Hasil dari penjualan album ini tidak mengecewakan, dan tak di sangka justru lagu mimpi yg sempurnalah yg jadi jagoan album ini dan mendongkrak penjualan sampai di atas 150,000 kopi. Penjualan yg bagus untuk sebuah album kompilasi. Otomatis mimpi yg sempurna merambah tangga radio2 dan dinyanyikan oleh banyak orang dan menjadi lagu wajib pengamen jalanan!!.

Dari sinilah pihak Musica tidak melewatkan potensi bermusik yg ada di ke 6 anak muda Bandung ini. Musica mempercepat pengajuan kontrak untuk debut album peterpan. Dan pada bulan Juni 2003 album debut “Taman Langit” di luncurkan.
Back ground setiap personil juga aliran dan selera bermusik mereka yang berbedalah yang membuat album Taman Langit ini memiliki lagu-lagu yg bervariasi, baik dari segi materi lagu dan soundsnya. Kekuatan vocal Ariel dan "simplicity" yang unik dari lirik2 peterpan di sebut oleh penggemar musik mereka sebagai benang merah yg tidak bisa di hapus dari musik peterpan. Sentuhan-sentuhan individu dari personil seperti Andika di Keyboard, Loekman di guitar 1, Uki di guitar 2, Indra di bass dan Reza di drum, juga sangat mempengaruhi terbentuknya warna musik peterpan di album pertama ini.

Walau jadwal masih padat selama tahun 2003-4, dan klimaks nya pada tgl 18 July 2004, peterpan melakukan aksi gila dengan mengadakan konser di 6 kota dalam waktu 24 jam!!! Konser yg diberi judul “konser breaking Record” itu menembus rekor MURI, manggung dari kota ke kota di dua pulau dalam waktu 24 jam!. Konser di mulai hari minggu tgl 18 july di medan sumut, lalu di teruskan di Padang, Pekan baru Riau, Lampung, Semarang dan berakhir di Surabaya. Dan tidak menanti lebih lama lagi, yaitu pada bulan Agustus, album ke 2 peterpan “Bintang di Surga” dirilis. Dalam waktu yg sangat singkat, 2 minggu Bintang di surga telah terjual 350,000 kopi. Dari sinilah dari band yang biasa-biasa saja di kenal, peterpan tak di sangka menjadi " a phenomenon band" di Indonesia, mengikuti senior mereka dalam mencetak penjualan album yang tinggi.

Di album ke dua ini banyak kemajuan cara bermusik mereka. Dan kemajuannya bisa di rasakan di setiap lagu. Karakter vocal Ariel mulai mendapatkan jati dirinya, permainan guitar loekman dan Uki juga mulai melengkapi satu sama lain. Reza semakin berani memberi warna dan arah di setiap lagu. Andika makin creative dan jeli mengembangkan aransement di setiap track. Permainan bas Indra makin terasa groovenya.

Semenjak peluncurannya sampai sekarang, album ini sudah terjual lebih dari 2,7 juta kopi. Angka yg fantastis ditengah lesunya penjualan album band2 dan musisi lain di Indonesia. Angka penjualan album yg tinggi juga di ikuti permintaaan show dan jadwal tour yg padat. Band yang sudah mengantongi beberapa penghargaan diantaranya 3 SCTV Awards, satu di tahun 2004 dan 2 di tahun 2005. Mereka juga menerima satu MTV Asia Awards sebagai favorite artist Indonesia pada tanggal 9 Mei 2005 di Bangkok. Disamping itu, dari konser-konser peterpan yang di gelar di beberapa daerah dan events-events kemanusiaan, mereka telah mendapatkan ulasan-ulasan dari berbagai media masa di Indonesia dan negara tetangga.